SEKILAS INFO
: - Senin, 18-10-2021
  • 1 tahun yang lalu / Terhitung Mulai 12 Desember 2019 SMP Negeri 3 Sungai Keruh berubah menjadi SMP Negeri 2 Sungai Keruh Sesuai dengan keputusan BUPATI Musi Banyuasin
  • 2 tahun yang lalu / Alhamdulillah SMP Negeri 3 Sungai Keruh mewakili kecamatan ke kabupaten lomba Sastra tutur dan tembang batanghari sembilan pada festival Randik 2019.
AGEN PEMBAHARUAN DALAM DIFUSI DAN INOVASI PENDIDIKAN

[embeddoc url=”https://www.smpn2sungaikeruh.sch.id/wp-content/uploads/2020/03/AGEN-PEMBAHARUAN-DALAM-DIFUSI-DAN-INOVASI-PENDIDIKAN.docx” download=”all” viewer=”microsoft”]AGEN PEMBAHARUAN DALAM DIFUSI DAN INOVASI PENDIDIKAN

Oleh

Haryanto, S.Pd, M.Pd

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perubahan adalah pembawaan alamiah yang timbul dalam proses perjalanan kehidupan manusia dan peradaban manusia. Perubahan dalam bentuk idea atau teknologi guna memastikan tercapainya suatu tujuan memerlukan penghubung antara sumber perubahan (change agency) dengan target masyarakat sasaran (clien) dari suatu perubahan melalui Kebijakan atau Teknologi baru.

Inovasi pendidikan merupakan bagian dari inovasi dan inovasi termasuk bagian dari perubahan sosial. Mengingat bahwa penyelenggara pendidikan formal adalah suatu organisasi maka pola inovasi dalam organisasi yang lebih sesuai diterapkan dalam bidang pendidikan

Proses inovasi itu sendiri tak lepas kaitannya dengan pengusaha pembaharuan, agen pembaharuan, dan masyarakat. Kemajemukan masyarakat akan berdampak pada kesenjangan antara pengusaha pembaharuan dengan masyarakat. Kesenjangan tersebut yang dapat menghambat proses difusi inovasi itu sendiri. Peran agen pembaharu seperti jembatan antara pengusaha pembaharu dengan masyarakat  dan seperti pelumas agar inovasi bisa berjalan dengan lancar. Inovasi bisa saja terhambat bahkan gagal tanpa adanya agen pembaharu. Agen pembaharu mampu memperdayakan sesama agar turut serta menikmati manfaat inovasi. Kedua kaki agen pembaharu berpijak diantara pengusaha pembaharu dengan masyarakat. Agen pembaharu sangat urgen peranannya dalam inovasi. Karena itu perlu pembahasan lebih jauh mengenai agen pembaharu itu sendiri.

Tugas utama agen pembaharu adalah melancarkan jalannya arus inovasi dari pengusaha pembaharuan ke klien. Proses komunikasi ini akan efektif jika inovasi yang disampaikan ke klien harus dipilih sesuai dengan kebutuhannya atau sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Agar jalinan komunikasi dalam proses difusi ini efektif, umpan balik dari system klien harus disampaikan kepada pengusaha pembaharuan melalui agen pembaharu. Dengan umpan balik ini pengusaha pembaharuan dapat mengatur kembali bagaimana sebaiknya agar komunikasi lebih efektif. Jika tidak terdapat kesenjangan sosial dan teknik antara pengusaha pembaharuan dan klien dalam proses difusi inovasi, maka tidak perlu agen pembaharu. Tetapi biasanya pengusaha pembaharu adalah orang-orang ahli dalam inovasi yang sedang didifusikan, oleh karena itu terjadi kesenjangan pengetahuan sehingga dapat terjadi hambatan komunikasi. Disinilah pentingnya agen pembaharu untuk penyampaian difusi inovasi agar dapat mudah diterima oleh klien.

Agen pembaharu harus mampu menjalin hubungan baik dengan pengusaha pembaharuan dan juga dengan system klien. Adanya kesenjangan heterophily pada kedua sisi agen pembaharu dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi. Sebagai penghubung antara kedua system yang berbeda sebaiknya agen pembaharu bersikap marginal, ia berdiri dengan satu kaki pada pengusaha pembaharu dan satu kaki yang lain pada klien. Keberhasilan agen pembaharu dalam melancarkan proses komunikasi antara pengusaha pembaharu dengan klien, merupakan kunci keberhasilan proses difusi inovasi. Selain itu agen pembaharu melakukan seleksi informasi untuk dapat disesuaikan dengan masalah dan kebutuhan klien.

 

  1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:

  1. Apa pengertian Agen pembaharuan (agent of change)
  2. Bagamana Fungsi dan tugas Agen pembaharu
  3. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu
  4. Bagaimana sistem difusi sentralisasi dan desentralisasi

 

  1. Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:

  1. Mengetahui apa pengertian Agen pembaharuan (agent of change)
  2. Mengetahui bagamana Fungsi dan tugas Agen pembaharu
  3. Mengetahui faktor–faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu
  4. Mengetahui bagaimana sistem difusi sentralisasi dan desentralisasi

 

  1. Manfaat

Manfaat penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai agen pembaharu yang nantinya dalam penyebaran inovasi dapat berjalan dengan baik terutama inovasi di bidang pendidikan.

 

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Agen Pembaharu

Agen Perubahan (Agent of Change) adalah individu atau seseorang yang bertugas mempengaruhi target / sasaran perubahan agar mereka mengambil keputusan sesuai dengan arah yang dikehendakinya. Agen Perubahan menghubungkan antara sumber perubahan (Inovasi, Kebijakan Publik dll) dengan systems masyarakat yang menjadi target perubahan. Dengan demikian komunikasi adalah alat stratejik bagi tercapainya suatu perubahan dalam organisasi maupun systems sosial dalam masyarakat.

Ibrahim, (1988:70) mengemukakan bahwa agen pembaharu adalah seorang profesional yang bertugas untuk mempengaruhi klien (sasaran inovasi), untuk mengambil keputusan mengikuti inovasi, sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh lembaga atau organisasi tempat agen pembaharu itu bekerja. Pekerjaan ini mencakup berbagai macam pekerjaan seperti guru, konsultan, penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian dan sebagainya. Semua agen pembaharu bertugas membuat jalinan komunikasi antara pengusaha pembaharuan (sumber inovasi) dengan system klien (sasaran inovasi).

Menurut Rogers (1983:312): “A change agent is an individual who influences clients’ innovation decisions in adirection deemed desirable by a change agency”. Dalam kebanyakan kasus agen perubahan berusaha untuk mengamankan adopsi ide-ide baru, tetapi dia juga dapat mencoba untuk memperlambat proses difusi dan mencegah adopsi inovasi tertentu. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia agen pembaharu adalah orang atau lembaga yg mendorong terciptanya perubahan sosial ekonomi secara berencana (spt penyuluh pertanian, guru).

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa agen pembaharu merupakan seorang profesional  yang bertuga mempengaruhi klien untuk menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh pengusaha pembaharuan guna mendorong terciptanya perubahan sosial secara berencana.

 

CHANGE AGENCY

 

 

 

 

 

 

 

CLIENT SYSTEM

 

AGEN PEMBAHARU SBG PENGUBUNG

Arus kebutuhan dan umpan balik dari klien ke pengusaha pembaharuan
Arus inovasi dari pengusaha pembaharuan ke klien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagan 1. Agen pembaharu sebagai penghubung antara pengusaha pembaharuan

dengan klien

(Rogers, 1983:314)

 

  1. Fungsi dan Tugas Agen Pembaharu

Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara pengusaha pembaharuan (change agency) dengan klien, tujuannya agar inovasi dapat diterima atau diterapkan oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha pembaharuan. Kunci keberhasilan diterimanya inovasi oleh klien terutama terletak pada komunikasi antara agen pembaharu dengan klien. Jika komunikasi lancer dan efektif proses penerimaan inovasi akan lebih cepat dan makin mendekati tercapainya tujuan yang diinginkan. Sebaliknya jika komunikasi terhambat makin tipis harapan diterimanya inovasi. Oleh karena tugas utama yang harus dilakukan agen pembaharu adalah memantapkan hubungan dengan klien. Kemantapan hubungan antara agen pembaharu dengan klien, maka komunikasi akan lebih lancar.

Rogers, mengemukakan ada tujuh langkah kegiatan agen pembaharu dalam pelaksanaan tugasnya inovasi pada system klien, sebagai berikut:

  1. Membangkitkan kebutuhan untuk berubah.

Biasanya agen pembaharu pada awal tugasnya diminta untuk membantu kliennya agar mereka sadar akan perlunya perubahan.Agen pembaharu mulai dengan mengemukakan berbagaimasalah yang ada, membantu menemukan masalah yang penting dan mendesak, serta meyakinkan klien bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut. Pada tahap ini agen pembaharu menentukan kebutuhan klien dan juga membantu caranya menemukan masalah atau kebutuhan dengan cara konsultatif .

  1. Memantapkan hubungan pertukaran informasi.

Sesudah ditentukannya kebutuhan untuk berubah, agen pembaharu harus segera membina hubungan yang lebih akrab dengan klien. Agen pembaharu dapat meningkatkan hubungan yang lebih baik kepada klien dengan cara menumbuhkan kepercayaan klien pada kemampuannya, saling mempercayai dan juga agen pembaharu harus menunjukan empati pada masalah dan kebutuhan klien.

  1. Mendiagnosa masalah yang dihadapi.

Agen pembaharu bertanggung jawab untuk menganalisa situasi masalah yang dihadapi klien, agar dapat menentukan berbagai alternatif jika tidak sesuai kebutuhan klien. Untuk sampai pada kesimpulan diagnosa agen pembaharu harus meninjau situasi dengan penuh emphati. Agen pembaharu melihat masalah dengan kacamata klien, artinya kesimpulan diagnosa harus berdasarkan analisa situasi dan psikologi klien, bukan berdasarkan pandangan pribadi agen pembaharu.

  1. Membangkitkan kemauan klien untuk berubah.

Setelah agen pembaharu menggali berbagai macam cara yang mungkin dapat dicapai oleh klien untuk mencapai tujuan, maka agen pembaharu bertugas untuk mencari cara memotivasi dan menarik perhatian agar klien timbul kemauannya untuk berubah atau membuka dirinya untuk menerima inovasi. Namun demikian cara yang digunakan harus tetap berorientasi pada klien, artinya berpusat pada kebutuhan klien jangan terlalu menoinjolkan inovasi.

  1. Mewujudkan kemauan dalam perbuatan.

Agen pembaharu berusaha untuk mempengaruhi tingkah laku klien dengan persetujuan dan berdasarkan kebutuhan klien jadi jangan memaksa. Dimana komunikasi interpersonal akan lebih efektif kalau dilakukan antar teman yang dekat dan sangat bermanfaat kalau dimanfaatkan pada tahap persuasi dan tahap keputusan inovasi. Oleh kerena itu dalam hal tindakan agen pembaharu yang paling tepat menggunakan pengaruh secara tidak langsung, yaitu dapat menggunakan pemuka masyarakat agar mengaktifkan kegiatan kelompok lain.

  1. Menjaga kestabilan penerimaan inovasi dan mencegah tidak berkelanjutannya inovasi.

Agen pembaharu harus menjaga kestabilan penerimaan inovasi dengan cara penguatan kepada klien yang telah menerapkan inovasi. Perubahan tingkah laku yang sudah sesuai dengan inovasi dijaga jangan sampai berubah kembali pada keadaan sebelum adanya inovasi.

  1. Mengakhiri hubungan ketergantungan.

Tujuan akhir tugas agen pembaharu adalah dapat menumbuhkan kesadaran unrtuk berubah dan kemampuan untuk merubah dirinya, sebagai anggota system social yang selalu mendapat tantangan kemajuan jaman. Agen pembaharu harus berusaha mengubah posisi klien dari ikatan percaya pada kemampuan agen pembaharu menjadi bebas dan percaya kepada kemampuan sendiri.

 

  1. Faktor-faktor Keberhasilan Agen Pembaharu

Berdasarkan hasil penelitian maupun pengamatan terhadap berbagai proyek difusi inovasi dan hasilnya dirumuskan dalam bentuk generalisasi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu, berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Usaha agen pembaharu.

Sebagai indicator untuk mengetahui kegigihan usaha yang dilakukan agen pembaharu. Sebagai indikator untuk mengetahui kegigihan (besarnya) usaha agen pembeharu ialah : jumlah klien yang dihubungi untuk berkomunikasi, banyaknya waktu yang digunakan untuk berpartisipasi di desa (tempat tinggal) klien dibandingkan dengan waktu di kantor atau di rumah sendiri, banyaknya keaktifan yang dilakukan dalam proses difusi inovasi, ketepatan memilih waktu untuk berkomunikasi dengan klien dan sebagainya. Makin banyak jumlah klien yang dihubungi, makin banyak waktu yang digunakan di tempat tinggal klien, makin banyak keaktifan yang dilakukan dalam proses difusi dan makin tepat agen pembeharu memilih waktu untuk berkomunikasi dengan klien, dikatakan makin gigih atau makin besar usaha klien untuk kontak dengan klien.

Dari berbagai bukti dirumuskan generalisasi bahwa Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan besarnya usaha mengadakan kontak dengan klien.

  1. Orientasi pada klien.

Sebagaimana telah kita ketahui posisi agen pembeharu berada ditengah-tengah antara pengusaha pembeharuan dan sistem klien. Agen pembeharu harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada pengusaha pembeharuan, tetapi dilain pihak ia juga harus bekerja bersama dan untuk memenuhi kepentingan klien. Agen pembeharu akan mengalami kesukaran jika apa yang diminta oleh pengusaha pembeharu tidak sesusai dengan kebutuhan klien. Namun demikian agen pembaharu akan berhasil melaksanakan tugasnya jika ia mampu untuk mengambil kebijakan dengan lebih berorientasi pada klien. Agen pembaharu harus menunjukan keakraban dengan klien, memperhatikan kebutuhan klien, sehingga memperoleh kepercayaan yang tinggi dari klien. Dengan dasar hubungan yang baik itu agen pembaharu dapat mengambil kebijakan menyesuaikan kebutuhan klien dengan kemauan pengusaha Pembaharuan. Tetapi jika agen pembeharu tampat berorientasi pada pengusaha pembaharuan, maka akan dianggap lawan oleh klien dan sama sekali tidak dapat mengadakan kontak atau komunikasi. Dari berbagai bukti hasil pengamatan dan penelitian dirumuskan generalisasi. Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan orientasi pada klien dari pada orientasi pada pengusaha pembaharuan.

  1. Sesuai dengan kebutuhan klien.

Salah satu tugas agen pembaharu yang sangat penting dan sukar melaksanakannya ialah mendiagnosa kebutuhan klien. Banyak terbukti usaha difusi Inovasi gagal karena tidak mendasarkan kebutuhan klien, tetapi lebih mengutamakan pada target inovasi sesuai kehendak pengusaha pembaharuan. Sebagai contoh, disebuah desa suku Indian, mendapat dana dari pemerintah untuk membangu irigasi agar dapat meningkatkan hasil pertaniannya. Tetapi sangat dibutuhkan orang di desa itu tendon air untuk minum, karena mereka harus berjalan sejauh 3 km untuk mendapatkan air sungai. Maka akhirnya penduduk membangun waduk air bukan di sawah tetapi didekat desa dan menggunakan air itu untuk minum bukan untuk irigasi. (Rogers, 1983, hal 320).

Dari berbagai bukti itu, dirumuskan generalisasi. Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan kesesuaian program difusi dengan kebutuhan klien.

Seperti telah kita ketahui bahwa emphati akan mempengaruhi efektifitas komunikasi. Komunikasi yang efektif akan mempercepat diterimanya inovasi. Generalisasi “Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan emphatic terhadapat klien”.

Perlu diperhatikan bahwa makin banyak perbedaan antara agen pembaharu dengan klien makin sukar agem pembaharu menunjukan emphatic. Untuk mengatasi hal ini biasanya diadakan pemilihan calon agen pembaharu dipilihkan orang yang mempunyai latar belakang kehidupan sesuai dengan klien dimana agen pembaharu akan bekerja.

Sebagaimana telah kita ketahui yang dimaksud dengan homophily ialah pasangan individu yang berinteraksi dengan mimiliki ciri-ciri atau karakteristik yang sama (sama bahasa, kepercayaan, adat istiadat dan sebagainya). Heterophily ialah pasangan individu yang berinteraksi dengan memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang berbeda. Biasanya agen pembaharu yang berbeda dengan klien lebih disegani, dan lebih suka mengadakan dengan klien yang memiliki persamaan dengan dia.

Dari pernyataan umum ini melahirkan serangkaian generelisasi yang ditunjang dengan bukti-bukti berdasarkan pengalaman para ahli.

  1. “Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan status sosial antara klien.
  2. “Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan besarnya partisipasi sosial antar klien”.
  3. “Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan tingginya tingkat pendidikan antara klien”.
  4. “Kontak yang dilakukan agen pembaharu, berhungan positif dengan sifat cosmopolitan antara klien”.

Generalisasi tersebut berdasarkan pemikiran bahwa kontak komunikasi antara agen pembaharu dengan klien akan lebih efektif jika homophily‟.

  1. Kontak agen pembaharu dengan klien yang berstatus lebih rendah.

Sebenarnya klien yang kurang mampu ekonominya, rendah pendidikannya, harus mendapat lebih banyak bantuan dan bimbingan dari agem pembaharu. Tetapi sesuai dengan prinsip homophily maka justru agen pembaharu lebih banyak kontak dengan klien yang berstatus lebih tinggi baik pendidikan maupun ekonominya. Sehingga dapat tibul pendapat yang kurang benar dari agen pembaharu yang menyatakan bahwa klien yang berstatus lebih rendah tidak termasuk tanggungjawabnya dalam pelaksanaan difusi inovasi. Jika ini terjadi maka akibatnya makin parah, karena makin terbuka kemungkinan klien yang berstatus lebih rendah tidak terjamah sama sekali oleh bantuan agen pembaharu. Salah satu cara untuk mengatasi dengan jalan memilih pembaharu yang sedapat mungkin sama dengan klien atau paling tidak mendekati, misalnya sama daerahnya, sama bahasanya, sama kepercayaannya dan sebagainya.

Dengan dasar itu maka dirumuskan generalisasi Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan klien yang homophily.

Dalam pelaksanaan difusi inovasi sering diadakan latihan atau penataran agen pembaharu. Dalam penataran atau latihan itu diberi petunjuk tentang cara pelaksanaan penyebaran inovasi dengan berbagai macam teknik yang dianggap relevan dengan klien. Tetapi tidak selalu menunjukan bahwa hasil latihan akan meningkatkan kemampuan dalam penampilan berkomunikasi dengan klien, bahkan makin tinggi jarak pengetahuan agen pembaharu dengan klien. Jadi terjadi masalah hubungan agen pembaharu dengan klien heterophily. Salah satu cara mengatasi ini dengan mengadakan pembantu propesional.

  1. Pembantu para-profesional

Pembantu para-propesional ialah orang yang bertugas membantu agen pembaharu agar terjadi kontak dengan klien yang berstatus lebih rendah. Pembantu para-propesional dari segi pengetahuan tentang inovasi dan teknik penyebaran inovasi, kurang dari agen pembaharu. Tetapi dengan mengangkat pembantu para-propesional ada keuntungannya yaitu biaya lebih rendah dapat kontak dengan klien yang berstatus lebih rendah dari agen pembaharu, karena para pembantu para-propesional lebih dekat dengan klien (homophily).

  1. Kepercayaan klien terhadap agen pembaharu (credibility).

Pembantu agen pembaharu (aide) kurang memperoleh kepercayaan dari klien, jika ditinjau dari segi kompentensi professional karena ia memang kurang professional. Tetapi pembantu agen pembaharu, memiliki kepercayaandari klien karena adanya hubungan yang akrab sehingga tidak timbul kecurigaan. Klien percaya pada pembantu agen pembaharu karena keyakinannya akan membawa kebaikan bagi dirinya, yang dise but: kepercayaan, keselamatan (Savety, credibility) . Pada umumnya agen pembaharu (professional dan hetrophily) memiliki kepercayaan kompetensi ( competency credibility), sedangkan pembantu agen pembaharu ( tidak professional dan homophily) memiliki kepercayaan keselamatan (savety, credibility). Seharusnya agen pembaharu yang ideal harus memiliki kedua kepercayaan tersebut secara seimbang. Tetapi hal ini sukar diperoleh, karena jika agen pembaharu itu professional berarti ia sarjana yang menguasai ilmu dan teknik, maka timbul perbedaan dengan klain yang berpendidikan rendah (heterophily). Salah satu cara untuk mengatasi ini dengan jalan mengangkat orang yang telah menerima dan menerapkan inovasi, sebagai pembantu agen pembaharu mempengaruhi teman-temannya ( anggota system klien yang lain) untuk menerima inovasi. Cara ini telah terbukti berhasil di India dalam difusi inovasi keluarga berencana dengan cara pasektomi. Pengusaha pembaharu memberi upah kepada orang yang sudah melaksanakan vasektomi yang mau dijadikan Canvasser ( membantu mencari pengikut KB) Ternyata canvasser di India ini memiliki keseimbangan antara kepercayaan kompetensi dan kepercayaan keselamatan. Ia dimata klien telah memiliki kopetensi karena telah berpengalaman manjalani operasi vasektomi. Canvasser juga memperoleh kepercayaan keselamatan, karena ia memiliki banyak persamaan dengan klien (homophiliy), sama dari status ekonomi lemah, sama tingkat pendidikannya, sama asal daerahnya, sama bahasanya dan sebagainya.

Jadi canvasser di India berhasil karena pembantu agen pembaharu memiliki keseinbangan kepercayaan baik kompetensi maupun keselamatan, dan ditambah lagi biaya honorariumnya lebih murqah dari pada agen pembaharu yang professional.

Dengan pengalaman itu dirumuskan generalisasi Keberhasilan agen pembeharu berhubung positif dengan kepercayaan (credibility)dari sudut pandang klien “.

  1. Profesional semu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pembantu agen pembaharu dapat memberikan beberapa keuntungan seperti biaya operasional rendah, dan dapat menjebatani kesenjangan heterophily, namum tidak berarti bahwa agen pembaharu lalu sama sekali tidak diperlukan. Agen pembaharu tetap masih sangat dibutuhkan untuk menatar atau mamilih pembantu agen pembaharu, engadakan super visi, dan juga membantu mencegah masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh pembantu agen pembaharu. Satu masalah yang sering dijumpai pembantu agen pembaharu aialah timbulnya professional semu yang terjadi karena pembantu agen pembaharu bergaya seperti agen pembaharu professional. Ia memakai pakaian, cara bertindak, dan sebagainya yang menyamai tenaga agen pembaharu professional. Secara psikologis hal ini wajar , karena ia mengagumi kehebatan kopetensi professional agen pembaharu, sehingga berusaha meniru agar menambah wibawa. Tetapi sebenarnya yang diperoleh justru terbalik, karena dengan bergaya seperti tenaga professional akan menghilangkan fungsinya untuk menjebatani kesenjangan heterophily. Biasanya jika pembantu agen pembaharu menyadari adanya masalah professional semu, mereka akan berusaha dan berhati-hati dalam bertindak sehingga terhindar dari hambatan terjadinya professional semu tersebut.

  1. Pemuka pendapat.

Dimuka masyarakat atau system social sering terdapat orang yang pendapat-pendapatnya mudah diikuti oleh teman-teman sekelompoknya. Orang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perubahan pengetahuan, sikap, dan tingkah laku orang lain secara informal, dengan tujuan tertentu, disebut pemuka pendapat. Dari berbagai pengalaman dan pengamatan para ahli menunjukan bahwa banyak difusi inovasi berhasil dengan cara memanfaatkan pemuka pendapat yang ada didalam system social.

Maka dirumuskan generalisasi “Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan besarnya usaha untuk bekerja sama dengan pemuka pendapat.

Waktu bagi agen pembaharu merupakan sumber yang sangat berharga. Dengan memusatkan komunikasi pada pemuka pendapat yang terdapat dalam system social, agen pembaharu dapat mempercepat penerimaan inovasi. Usaha ini lebih ekonomis karena akan menghemat waktu. Agen pembaharu cukup berkomunikasi dengan beberapa orang pemuka pendapat, tidak perlu berkomunikasi dengan semua anggota system social satu persatu. Dan juga banyak difusi inovasi yang menunjukan jika pemuka pendapat telah menerima dan menerapkan inovasi akan segera diikuti oleh anggota system social yang lain, bahkan mun gkjin sukar untuk menghentikannya. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman para ahli sering terjadi agen pembaharu salah menunjuk innovator sebagai pemuka pendapat. Mungkin cirri-cirinya hamper sama, bahwa innovator mempunyai sifat-sifat lebih terbuka, lebih modern tapi belum tentu orang itu sebagai pemuka pendapat.Bedanya cukup jelas bahwa pemuka pendapat tingkah lakunya mudah diikuti oleh orang lain, sedangkan innovator hanya lebih dulu menerima inovasi. Jika agen pembaharu lebih memusatkan kegiatan komunikasinya pada innovator dari pada pemuka pendapat, maka hasilnya akan tampak dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang inovasi, tetapi tidak banyak pengikutnya. Tingkah laku innovator tidak menjamin diikutinya oleh anggota klien pada umumnya.

Kesukaran lain yang sering dijumpai agen pembaharu jika agen pembaharu terlalu ketat dalam menentukan persyaratan untuk memilih pemuka pendapat dan kemudian perhatian hanya dipusatkan pada sekelompok pemuka pendapat tersebut, maka yang akan terjadi ialah pemuka pendapat itu menjadi lebih inovatif dan juga menjadi kelompoknya agen pembaharu dari sudut pandang klien. Jika ini yang terjadi kasusnya sama dengan professional semu, yang diperoleh justru merusak hubungan antara pemuka pendapat dengan pengikutnya dan juga ada kemungkinan agen pembaharu tidak diperlukan lagi.

  1. Kemampuan klien untuk menilai inovasi.

Salah satu keunikan agen pembaharu dalam proses difusi inovasi, ialah memiliki kompetensi teknik, yang menyebabkan ia berwewenang untuk bertindak sesuai dengan keahliannya dalamengaruhi klien untuk menerima inovasi. Tetapi jika agen pembaharu melakukan pendekatan jangka panjang dalam mencapai tujuan inovasi, maka ia harus berusaha membangkitkan klien agar memiliki kemampuan teknik dan kemampuan menilai potensi inovasi yang dicapainya sendiri. Dengan kata lain agen pembaharu harus berusaha menjadikan klien menjadi agen pembaharu dirinya sendiri. Bahwa keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan meningkatnya kemampuan klien untuk menilai inovasi. Tetapi pada umumnya agen pembaharu hanya bekerja dalam jangka pendek, terutama untuk melancarkan proses kecepatan diterimanya inovasi. Kesadaran dan kemempuan memperbaharui diri dengan percaya kepada kemempuan sendiri menjadi tujuan dari pengusaha pembaharuan, sedangkan seberapa kadar yang dapat dicapai tergantung pada usaha agen pembaharu.

 

 

  1. Sistem Difusi Sentralisasi dan Desentralisasi.

Sistem difusi yang telah berpuluh-puluh tahun digunakan ialah system difusi sentralisasi,yang sering disebut juga system difusi model klasik. Adapun ciri-ciri pokok system difusi sentralisasi ialah: ide inovasi muncul dari para ahli yang kemudian disebarluaskan dalam bentuk paket yang seragam kepada anggota system social yang mungkin akan menerima atau menolak inovasi. Peranan klien dalam proses difusi sebagai penerima yang pasif. Sistem difusi sentralisasi ini pada mulanya dianggap telah berhasil dengan baik untuk menyebarluaskan inovasi di bidang pertanian. Para ahli pertanian yang menemukan suatu ide baru,kemudian ditentukan bagaimana cara penyebarannya, siapa yang menyebarkan, siapa sasaran utama untuk menerima ide baru tersebut, dan prencanaan lainya, semuanya ditentukan oleh sekelompok ahli.

Kemudian mulai 1970 Rogers menyadari bahwa system difusi sentaralisasi tidak dapat terlaksana persis seperti apa yang telah direncanakan oleh penemunya, tapi kenyataannya banyak terjadi modifikasa atau re-invensi dalam penerapannya di lapangan. Demikian pula Schon pada tahun 1971 mengatakan bahwa teori difusi jauh lebih tertinggal dari kenyataan timbulnya tantangan, perlu system difusi yang baru. Ia menyatakan bahwa system sentralisasi tidak dapat menampung munculnya ide-ide baru dari berbagai bidang yang sangat komplek, dan terjadinya difusi melalui jalur yang horizontal. Maka kemudian timbul system difusi desentralisasi yang ditandai dengan: munculnya ide baru tidak dari seorang atau sekelompok ahli, tetapi dapat dari siapa saja dan juga proses penyebarannya diatur oleh calon penerima inovasi sendiri. Jadi sasaran inovasi juga berperan sebaagi agen pembaharu.

Perbandingan antara system difusi sentralisasi dan difusi desentralisasi, diuraikan secara singkat sebagai berikut :

  1. Sistem difusi sentralisasi.
  2. Wewenang pengambil keputusan dan kebijakan, berada pada administrator pemerintah pusat dan para ahli bidang ilmu (technical subject-matter expert).
  3. Arah difusi dari pusat ke bawah (top-down), artinya dari para ahli ( penemu inovasi) disebarkan ke para sasaran penerima inovasi di daerah.
  4. Sumber inovasi, dari organisasi formal “Penelitian dan Pengembangan” yang ditangani oleh para ahli.
  5. Penetapan difusi inovasi dilakukan oleh tenaga administrator di pusat dan para ahli di bidang ilmu.
  6. Pendekatan yang digunakan berorientasi pada inovasi, penentuan kebutuhan klien berdasarkan adanya inovasi, dengan teknik pelaksanaan didorong dari atas.
  7. Tidak banyak terjadi re-inversi serta modifikasi untuk disesuaikan dengan kondisi setempat selama dalam proses difusi inovasi.
  8. Sistem difusi desentralisasi
  9. Keptusan dan kebijakan diambil secara bersama oleh anggota-anggota system difusi. Klien dikontrol oleh pimpinan masyarakat setempat.
  10. Arah difusi secara horizontal dari kelompok ke kelompok (peer diffusion).
  11. Sumber inovasi dating dari percobaan bukan mesti orang ahli dari wilayah setempat, yang juga sering jadi pemakainya.
  12. Penetapan difusi inovasi oleh kelompok masyarakat setempat (lokal) berdasarkan penilaian inovasi secara informal.
  13. Menggunakan pendekatan yang berorientasi kepada pemecahan masalah , yang timbul dari apa yang diamati dan dirasakan oleh masyarakat setempat, teknik pelaksanaan ditarik dari bawah.
  14. Banyak terjadi re-inversi dan penyesuaian dengan kondisi setempat selama dalam proses difusi antar anggota system social.

Dalam pelaksanaan difusi inovasi tidak dapat dibedakan secara tegas mana yang Sentralisasi dan yang desentralisasi, biasanya mana yang lebih dominant dari cirri-ciri tersebut, sehingga difusi cenderung yang sentralisasi atau desentralisasi. Rogers menggambarkan rentangan difusi inovasi yang merupakan continuum dari desentralisasi ke sentralisasi.

 

 

 

 

 

Sistem difusi desentralisasi
Sistem difusi desentralisasi

 

 

 

 

 

Gambar 2. Kontinuum sistem difusi desentralisasi dan sentralisasi (rogers, 1983:330)

 

Sistem difusi desentralisasi disamping memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan jika dibandingkan dengan system sentralisasi.

  1. Kelebihan

Adapun kelebihan sistem desentralisasi ialah bahwa difusi inovasi yang dilakukannya sesuai dengan kebutuhan klien. Hal ini terjadi karena klien sebagai pemakai juga turut ikut berpartisipasi dalm membuat berbagai keputusan, seperti mana problem yang paling mendesak, bagaimana inovasi akan diterima, perlukah modifikasi atau re-invensi dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat, dan juga klien ikut mengontrol pelaksanaan difusi. Masalah kesenjangan klien-agen pembaharu heterophily tidak terjadi, atau kalau ada sangat kecil kemungkinannya. Motivasi untuk menerima inovasi dating dari klien sendiri, dan kemungkinan besar biaya operasional lebih murah, yang jelas tidak perlu biaya untuk memberi upah tenaga ahli. Dan juga pengembangan sikap percaya pada kemampuan sendiri terpupuk dalam difusi desentralisasi.

  1. Kelemahan

Kelemahan system difusi desentralisasi jika dibandingkan dengan system difusi sentralisasi antara lain:

  1. Jika inovasi yang akan disebarluaskan memerlukan tenaga ahli (sarjana bidang ilmu tertentu), maka sistem ilmu desentralisasi kurang tepat digunakan karena akan terjadi kesukaran mencari tenaga ahli.
  2. Sistem difusi desentralisasi yang dilaksanakan secara ekstrim memiliki kelemahan kurang adanya koordinasi, untuk menentukan mana masalah yang dihadapi, inovasi mana yang tepat digunakan, siapa yang mengontrol pelaksanaan difusi, dan sebagainya.
  3. Pada suatu saat kadang-kadang memang diperlukan menyebarkan inovasi yang klien tidak merasa\memerlukanya. Maka jika menggunakan system desentralisasi tidak akan terjadi difusi. Misalnya program KB di Afrika, Amerika Latin, dan Asia, semuanya dengan sentralisasi. Kalau menggunakan desentralisasi maka tidak akan terjadi difusi, karena klien belum merasa perlu KB.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, sistem difusi desentralisasi lebih tepat digunakan untuk menyebarkan inovasi yang tidak melibatkan tenaga ahli tingkat tinggi dan sasaran perubahan heterogen. Jika sasaran perubahannya homogen secara relative lebih tepat dengan system sentralisasi.

Dapat juga dillakukan kombinasi antar beberapa unsure system desentralisasi dan system sentralisasi. Misalnya untuk koordinasi kegiatan menggunakan system sentralisasi, tetapi untuk menentukan mana inovasi yang kan didifusikan berdasarkan kebutuhan dengan system desentralisasi.

 

Kesimpulan

Agen pembaharu (chage agent) adalah orang yang bertugas mempengaruhi klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh pengusaha pembaharuan (change agency). Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara pengusaha pembaharuan (change agency) dengan klien, tujuannya agar inovasi dapat diterima atau diterapkan oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha pembaharuan.

Faktor-faktor Keberhasilan Agen Pembaharu Berdasarkan hasil penelitian maupun pengamatan terhadap berbagai proyek difusi inovasi dan hasilnya dirumuskan dalam bentuk generalisasi. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu antara lain: Usaha agen pembaharu, Orientasi pada klien, Sesuai dengan kebutuhan klien, Empati, Homophily, Kontak agen pembaharu dengan klien yang berstatus lebih rendah, Pembantu para-profesional, Kepercayaan klien terhadap agen pembaharu (credibility), Profesional semu, Pemuka pendapat dan Kemampuan klien untuk menilai inovasi.

System difusi sentralisasi ialah: ide inovasi muncul dari para ahli yang kemudian disebarluaskan dalam bentuk paket yang seragam kepada anggota system social yang mungkin akan menerima atau menolak inovasi. system difusi desentralisasi yang ditandai dengan: munculnya ide baru tidak dari seorang atau sekelompok ahli, tetapi dapat dari siapa saja dan juga proses penyebarannya diatur oleh calon penerima inovasi sendiri

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Everett M. Rogers. 1983. Diffusion of innovasion. The free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc.

Newyork

Budiman, A,. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Havelock, Ronald G. 1995. The Change Agent’s Guide 2ed., NJ: Educational Technology Publ

Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral pendidikan tinggi proyek pengembangan lembaga

pendidik tenaga kependidikan

Sa’ud S. Udin. 2012.  Inovasi Pendidikan. Bandung: Penerbit Alfabeta

TINGGALKAN KOMENTAR

Kategori

Buka chat
Butuh bantuan?
Hai, ada yang bisa dibantu?